Minggu, 01 Desember 2019

Zuhud Sebagai Jalan Terbaik

Dunia itu kecil jika kita melihat kebesaranNya
                      Lantaskah manusia menyalahkan cinta, hanya karna ia membiarkan cintanya menguasai dirinya, bukankah memang rasa sayang diciptakan agar manusia saling menyayangi. Tentu benar, tapi itu juga salah. Kita klasifikasikan terlebih dahulu, menurut Ibn Qayyim Al-Jauzy. Ada beberapa jenis cinta yang harus dibedakan agar tidak timbul persepsi yang salah :
1.      Mahabbatullah (cinta kepada Allah)
2.      Mahabbatu maa yuhibbullah (mencintai apa yang Allah cintai)
3.      Al-hubbu fillah wa lillah (cinta karena Allah dan dijalan Allah)
4.      Al-Mahabbah ma’Allah (cinta yang mendua kepada Allah)
5.      Al-Mahabbah ath-thabi’iyyah (rasa cinta yang manusiawi)[1]
Kali ini kita akan fokus ke bagian ke-2, mengenai sesuatu apa yang Allah cintai, maka kita juga akan membahas apa yang Allah benci. Dalam ilmu tasawwuf, para sufi lebih condong ke perihal zuhud dalam membahas cinta, adapun kaum hedonis ia terlahir dari pemikiran-pemikiran barat, yang kini merasuki akal umat Islam, mereka kaum hedonis membungkus cinta didalam kesenangan, berasumsi bahwa kesenangan mereka terhadap dunia ini adalah wujud dari cinta, dimana mayoritas mereka merealisasikannya. Namun ini tidak dibenarkan dengan hadits yang mengatakan : “...takutlah kepada dunia, dan perempuan...”. Secara rasional, kesenangan terhadap sesuatu, akan membuat orang tersebut lalai akan sesuatu yang lain. Karena segala sesuatu yang enak itu bukan berarti kebaikan, namun juga ada yang enak juga baik dan itu adalah sesuatu yang dilakukan pada saatnya. Sebuah kaidah fiqih berbunyi:
من استعجل الشيء قبل أوانه عوقب بحرمانه
Barang siapa yang menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, maka ia terkena keharamannya. Kaidah ini dipastikan sesuai dengan keterkaitan hedonis barat, mereka melakukan hubungan intim, tapi belum waktunya, meminum khamr sebelum waktunya, maka mereka nanti tidak akan mendapatkan kesenangan ini di akhirat, karena mereka telah melakukannya di dunia. Sebuah hadits yang juga berkaitan dengan hal zuhud :

2305- حدّثنا بشر بن هلال الصوّاف البصْريّ, حدّثنا جعفر بن سليمان, عن أبي طارق, عن الحسن, عن أبي هريرة, قال : قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم : ((من يأخذ عنّي هؤلاء الكلمات فيعمل بهنّ أو يعلّم من يعمل بهنّ ؟)) فقال أبو هريرة  :فقلت أنا يا رسول الله فأخذ بيدي فعد خمسا وقال : ((اتق المحارم تكن أعبد الناس وارض بما قسم الله لك تكن أغنى الناس وأحسن إلى جارك تكن مؤمنا وأحب للناس ما تحب لنفسك تكن مسلما ولا تكثر الضحك فإن كثرة الضحك تميت القلب)).
Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Hilal Ash Shawwaf Al Bashri telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Sulaiman dari Abu Thariq dari Al Hasan dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Siapa yang mau mengambil kalimat-kalimat itu dariku lalu mengamalkannya atau mengajarkan pada orang yang akan  mengamalkannya?" Abu Hurairah menjawab: "Saya, wahai Rasulullah." beliau meraih tanganku lalu menyebut lima hal: jagalah dirimu dari keharaman-keharaman niscaya kamu menjadi orang yang paling menghambakan diri, terimalah pemberian Allah dengan rela niscaya kau menjadi orang terkaya, berbuat baiklah terhadap tetanggamu niscaya kamu menjadi orang mu`min, cintailah untuk sesama seperti yang kau mencintai dirimu sendiri niscaya kau menjadi orang muslim, jangan sering tertawa karena seringnya tertawa itu mematikan hati (Diriwayatkan oleh at-Tirmizi, sanadnya dhaif).[2]
Dunia ini hanya titipan semata adalah bahasa yang sesuai untuk memaknai hadits diatas. Penting bagi kita untuk mengambil istifadah dari hadits ini, orang-orang yang gagal, tak dapat menerima amanah untuk menjaga hawa nafsu ini, bukan karna tidak adanya pengetahuan tentang akibatnya, namun karena mereka yang malah membiarkan hati dikuasai oleh hawa nafsu. Adapun orang-orang yang luar biasa, seorang mukmin yang dapat menahan nafsu dari apa yang ada di dunia fana ini, dan memfokuskan akhirat tanpa melupakan harus adanya persiapan serta kewajiban di dunia.
قال أبو موسى الديبلي :
لا تأيس علي ما فاتك منها, ولا تفرح بما أتاك منها
            Jangan putus asa atas apa yang hilang darimu, dan jangan bangga dengan apa yang Ia berikan kepadamu.
Lantas, didunia ini tentu tak ada yang bisa dibanggakan oleh manusia. Namun, yang pantas bagi manusia adalah bersyukur atas segala hal.
يا معشر الشباب، عليكم بالآخرة فاطلبوها؛ فكثيرا رأينا من طلب الآخرة فأدركها مع الدنيا، وما رأينا أحدا طلب الدنيا فأدرك الآخرة مع الدنيا
Wahai sekalian pemuda, sibukkanlah diri kalian dengan akhirat  karena kebanyakan yang kami lihat, mereka yang mencari akhirat membuat dunia bersimpuh didalam tangannya. Dan kami tak melihat mereka yang mencari dunia kemudian mendapatkan akhirat.





[1] @tausiyahku, Tausiyah Cinta, QultumMedia, Cet ke 1, Feb. 2016
[2] Abu Al Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarakfuri, ­Tuhfatu al Ahwadzi bi Syarhi Jami at Tirmidzi, Darul Hadits, Qahirah, Cet. Ke 1, 1421 H/2001 M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar