 |
| Dunia itu kecil jika kita melihat kebesaranNya |
Lantaskah manusia menyalahkan cinta, hanya
karna ia membiarkan cintanya menguasai dirinya, bukankah memang rasa sayang diciptakan agar
manusia saling menyayangi. Tentu benar, tapi itu juga salah. Kita
klasifikasikan terlebih dahulu, menurut Ibn Qayyim Al-Jauzy. Ada beberapa jenis
cinta yang harus dibedakan agar tidak timbul persepsi yang salah :
1. Mahabbatullah (cinta kepada Allah)
2. Mahabbatu maa
yuhibbullah (mencintai apa
yang Allah cintai)
3. Al-hubbu fillah
wa lillah (cinta karena
Allah dan dijalan Allah)
4. Al-Mahabbah
ma’Allah (cinta yang
mendua kepada Allah)
5. Al-Mahabbah
ath-thabi’iyyah (rasa cinta yang manusiawi)
Kali ini kita akan fokus ke bagian ke-2,
mengenai sesuatu apa yang Allah cintai, maka kita juga akan membahas apa yang
Allah benci. Dalam ilmu tasawwuf, para sufi lebih condong ke perihal zuhud
dalam membahas cinta, adapun kaum hedonis ia terlahir dari pemikiran-pemikiran
barat, yang kini merasuki akal umat Islam, mereka kaum hedonis membungkus cinta
didalam kesenangan, berasumsi bahwa kesenangan mereka terhadap dunia ini adalah
wujud dari cinta, dimana mayoritas mereka merealisasikannya. Namun ini tidak
dibenarkan dengan hadits yang mengatakan : “...takutlah kepada dunia, dan
perempuan...”. Secara rasional, kesenangan terhadap sesuatu, akan membuat orang
tersebut lalai akan sesuatu yang lain. Karena segala sesuatu yang enak itu
bukan berarti kebaikan, namun juga ada yang enak juga baik dan itu adalah
sesuatu yang dilakukan pada saatnya. Sebuah kaidah fiqih berbunyi:
من استعجل الشيء قبل أوانه عوقب بحرمانه
“Barang siapa
yang menyegerakan sesuatu sebelum waktunya, maka ia terkena keharamannya”. Kaidah ini
dipastikan sesuai dengan keterkaitan hedonis barat, mereka melakukan hubungan
intim, tapi belum waktunya, meminum khamr sebelum waktunya, maka mereka nanti
tidak akan mendapatkan kesenangan ini di akhirat, karena mereka telah
melakukannya di dunia. Sebuah hadits yang juga berkaitan
dengan hal zuhud :
2305- حدّثنا بشر بن هلال الصوّاف البصْريّ,
حدّثنا جعفر بن سليمان, عن أبي طارق, عن الحسن, عن أبي هريرة, قال : قال رسول الله
صلّى الله عليه و سلّم : ((من يأخذ عنّي هؤلاء الكلمات فيعمل بهنّ أو يعلّم من يعمل بهنّ ؟)) فقال أبو هريرة :فقلت أنا يا رسول الله فأخذ بيدي فعد خمسا وقال : ((اتق المحارم تكن أعبد الناس وارض بما قسم الله لك تكن أغنى الناس
وأحسن إلى جارك تكن مؤمنا وأحب للناس ما تحب لنفسك تكن مسلما ولا تكثر الضحك فإن
كثرة الضحك تميت القلب)).
Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Hilal Ash Shawwaf Al Bashri telah
menceritakan kepada kami Ja'far bin Sulaiman dari Abu Thariq dari Al Hasan dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Siapa yang mau mengambil kalimat-kalimat itu dariku
lalu mengamalkannya atau mengajarkan pada orang yang akan mengamalkannya?" Abu Hurairah menjawab:
"Saya, wahai Rasulullah." beliau meraih tanganku lalu menyebut lima
hal: jagalah dirimu dari keharaman-keharaman niscaya kamu menjadi orang yang
paling menghambakan
diri, terimalah pemberian Allah dengan rela niscaya kau
menjadi orang terkaya, berbuat baiklah terhadap tetanggamu niscaya kamu menjadi
orang mu`min, cintailah untuk sesama seperti yang kau mencintai dirimu sendiri
niscaya kau menjadi orang muslim, jangan sering tertawa karena seringnya
tertawa itu mematikan hati (Diriwayatkan oleh at-Tirmizi, sanadnya dhaif).
Dunia ini hanya titipan semata
adalah bahasa yang sesuai untuk memaknai hadits diatas. Penting bagi kita untuk
mengambil istifadah dari hadits ini, orang-orang yang gagal, tak dapat menerima
amanah untuk menjaga hawa nafsu ini, bukan karna tidak adanya pengetahuan
tentang akibatnya, namun karena mereka yang malah membiarkan hati dikuasai oleh
hawa nafsu. Adapun orang-orang yang luar biasa, seorang mukmin yang dapat
menahan nafsu dari apa yang ada di dunia fana ini, dan memfokuskan akhirat
tanpa melupakan harus adanya persiapan serta kewajiban di dunia.
قال أبو
موسى الديبلي :
لا تأيس علي ما فاتك منها, ولا تفرح بما أتاك منها
Jangan putus asa atas apa yang
hilang darimu, dan jangan bangga dengan apa yang Ia berikan kepadamu.
Lantas, didunia ini tentu tak
ada yang bisa dibanggakan oleh manusia. Namun, yang pantas bagi manusia adalah
bersyukur atas segala hal.
يا معشر الشباب، عليكم
بالآخرة فاطلبوها؛ فكثيرا رأينا من طلب الآخرة فأدركها مع الدنيا، وما رأينا أحدا
طلب الدنيا فأدرك الآخرة مع الدنيا
Wahai sekalian pemuda, sibukkanlah diri kalian
dengan akhirat karena kebanyakan yang
kami lihat, mereka yang mencari akhirat membuat dunia bersimpuh didalam
tangannya. Dan kami tak melihat mereka yang mencari dunia kemudian mendapatkan
akhirat.